Orang tua merupakan perumpamaan teman, sahabat dan tentunya orang yang paling dekat dengan anaknya. Keihklasannya dalam membimbing dan tentunya memberikan kasih sayang yang tiada terhingga pada anak. orang tua dalam hal ini ayah dan ibu memberikan arahan yang salah satunya menentukan pola pikir anak dengan harapan anaknya bisa mendapatkan cita-cita yang diidam-idamkan anak dan tentu cita-citanya dapat menjadi tolak ukur keberhasilan anak tersebut.

Orang tua dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dengan penuh harapan biasanya berpesan  sebelum anaknya berangkat / pada saat pertama kali mengecap bangku sekolah “belajar ya nak! setidaknya kamu harus memiliki masa depan yang lebih baik dari bapak dan ibu”, itu perkataan singkat orang tua kepada anaknya, dengan atau tanpa pendidikan yang tinggi, dengan atau tanpa status sosial yang mapan, siapapun yang merasa jadi orang tua, ingin memiliki anak yang berhasil dan mendapatkan sesuatu yang dicita-citakannya.

Namun perkataan orang tua yang menginginkan anaknya berhasil menimbulkan pertanyaan manakala orang tua memiliki pendidikan yang mungkin SD saja ditempuh dengan waktu lebih dari 6 tahun. Seorang anak dengan kepolosan dan keluguaannya bertanya kepada orang tuanya. “pak, kenapa saya harus sekolah? memangnya bapak dulu sekolah?kenapa tidak dengan bapak saja belajarnya?”

Sejenak orang tua menarik nafas dan menjawab “Nak, jika kamu sudah dewasa nanti, apakah kamu siap memiliki kehidupan seperti bapak atau lebih buruk dari kehidupan bapak sekarang?” sejenak anak terdiam dan sebelum anak tersebut menjawab pertanyaan bapaknya, bapaknya melanjutkan kembali pernyataannya “apakah kamu mau mengikuti nasib bapak yang tidak bisa menulis dan membaca?” kemudian orangtuanya melanjutkan kembali pernyataannya dengan sedikit meneteskan air mata, “ingat nak! Bapak ini manusia, dan yang namanya manusia pasti memiliki kekurangan, meskipun bapak adalah orangtua mu, tapi jangan pernah kamu mengikuti jejak bapak yang tidak baik, cukup kamu ikuti saja perbuatan, perkataan, prilaku orangtua yang baik saja”.

Sang anak yang dari tadi mendengarkan nasehat orangtuanya, dengan perasaan yang sedih karena terbawa nasehat orangtuanya menjawab “Sudah pak, tidak usah diteruskan lagi pak.” kemudian sang bapak dengan penuh rasa kasih sayang memeluk anaknya dan berkata “maaf nak, maafkan semua kesalahan bapak dan ibu yaa, bapak cuma bisa berpesan 3 hal. Pertama, niatkan dalam hati mu nak untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sunguh dan penuh ketekunan. Kedua, jalankan niat baik mu dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, dan yang ketiga, janga pernah lupa berdo’a pada yang maha kuasa”.

Setelah berpelukan, sang anak berkata “doakan saya pak, saya berjanji, mulai hari ini saya belajar dengan sungguh sungguh.” dengan rasa penuh percaya diri, sang anak melangkah ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Kemudian sang bapak menjawab “Ya anak ku, bapak dan ibu tentunya akan selalu berdoa kepada yang maha kuasa supaya niat baik, amal baik dan doa mu diterima dan kabulkan yang maha kuasa. Amin”.

Sang anak yang tengah dalam kondisi penuh percaya diri, serasa mendapatkan energi tambahan dengan ucapan yang disampaikan orang tuanya, dan hatinya berkata “baik pak, saya akan pegang nasehat bapak, saya akan buktikan bahwa saya bisa berhasil”.

Mudah-mudahan kisah ini dapat menginspirasi anak-anak yang sekarang sedang menuntut ilmu untuk lebih giat dan tekun lagi dalam menuntut ilmu, lebih menghargai dan menghormati lagi pengorbanan orang tua terhadap keluarganya.

Kisah ini juga bisa jadi bahan introspeksi diri bagi orang tua, bahwa sebenarnya salah satu yang membuat anak bangga terhadap orang tuanya adalah dengan kejujuran, kejujuran akan kekurangan yang kita miliki dan berharap anak kita minimal bisa meminimalisir kekurangan yang kita miliki andai kata kekurangan tersebut ada dalam diri anak kita, serta kejujuran akan kelebihan yang kita miliki bukan untuk dibangga-banggakan oleh kita selaku orang tua juga tidak dibangga-banggakan oleh anak kita.

Salah satu keberhasilan orang tua dalam mendidik anak adalah ketika orang tua tersebut memiliki anak yang bisa memuliakan orang tuanya.